UMM Terima Kunjungan STAI Sangatta

Sejumlah 22 orang dari jajaran pimpinan dan staf Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur berkunjung ke kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (8/11). Rombongan yang dipimpin ketua STAI Sangatta, Prof Dr Hj Siti Muriah, disambut kepala Humas UMM, Nasrullah, sekretaris Humas Rina Wahyu Setyaningrum, serta Plt Ketua Prodi Ekonomi Syariah, FAI UMM, M Azhar Muttaqin.

Sebelum meninjau berbagai unit di UMM, rombongan sempat berdiskusi tentang berbagai persoalan pengelolaan kampus. Termasuk tentang sistem kendali mutu akademik, perpustakaan, program bahasa Inggris dan kurikulum prodi Ekonomi Syariah.

Muriah mengakui kampusnya masih perlu banyak belajar kepada UMM. Sebagai kampus swasta, STAI Sangatta memandang UMM sebagai kiblat yang tepat untuk mengembangkan secara kelembagaan. Hari-hari ini memang STAI masih disubsidi oleh pemerintah daerah, tetapi pihaknya harus siap seandainya sewaktu-waktu pemda tidak berpihak dan melepas bantuannya.

“Kami tentu was-was, tetapi kami harus tetap berjuang agar kampus kami bisa tumbuh dan maju,” ungkap Muriah optimis. STAI Sangatta memiliki dua prodi, yakni Tarbiyah dan Ekonomi Syari’ah. Meski baru berdiri pada 2007, kini minat masyarakat di Kutai Timur cukup bagus pada kampus ini.

Menanggapi hal itu, Nasrullah menyatakan apresiasinya pada STIA Sangatta. Setiap tamu kunjungan, katanya, selalu bernilai silaturahim dan dapat menjadi inspirasi. “Belum tentu kami lebih baik, sering justru kami juga belajar dari saudara-saudara kami yang studi banding ke sini,” ujarnya. Dia berharap kedua pihak bisa memperoleh manfaat dari sharing ini.

Sementara itu, Prodi Ekonomi Syariah dipandang tepat berada di Fakultas Agama Islam (FAI) daripada di Fakultas Ekonomi. Menurut Azhar, yang ingin dicetak dari prodi baru di UMM ini bukanlah praktisi bank syariah melainkan ahli-ahli ekonomi syariah yang lebih banyak memeiliki dasar syariah dalam melihat bidang ekonomi.

 Meski demikian, kata Azhar, Ekonomi Syariah UMM tetap dikembangkan dengan pendekatan praktis profesional dengan mengenalkannya pada lab Bank Syariah maupun simulai ekonomi Islam. “Kurikulum kami mengacu pada pembekalan agama pada para ahli ekonomi sehingga mampu menganalisis ke-syai’ah-an sebuah praktek ekonomi. Dengan demikian mereka juga harus terampil dalam mengelola ekonomi syariah, termasuk dunia perbankan, asuransi, keuangan mikro, dan sebagainya,” kata Azhar.

Kenyataan ini membuat pihak STAI Sangatta terkesan. Sebab selama ini kurikulumnya dikembangkan untuk menyiapkan tenaga terampil di bidang ekonomi syariah, seperti perbankan.Tak pelak ciri ke-Islamannya memang dirasa kurang karena lebih kental di ekonomi. Oleh karena itu pihak STAI Sangatta berkeinginan menengok struktur kurikulum UMM.

“Ekonomi Syariah kami juga masih baru, baru buka tahun ini walau ijin operasionalnya sudah kami peroleh tahun lalu. Namun kami memang concern untuk menyiapkan sebaik-baiknya sehingga arah pengembangannya tidak salah kaprah,” lanjut Azhar yang juga mengaku melakukan studi banding ke berbagai tempat sebelum akhirnya memiliki kurikulum seperti sekarang.

Rombongan dibagi menjadi empat kelompok untuk berkunjung ke berbagai unit yang ada di UMM. Kelompok sistem penjaminan mutu yang melawat ke kantor Badan Kendali Mutu Akademik (BKMA) UMM sempat terkesan dengan sistem monitoring proses pembelejaran di UMM yang menggunakan kamera cctv. Sementara di perpustakaan, rombongan lainnya mencoba menggunakan digital library. (fan/nas)