in

Nostalgia Dies Natalis STAI Sangatta Kutim

Nostalgia Dies Natalis STAI Sangatta Kutim

Mungkin hanya beberapa diantara kita yang mengetahui bahwa 20 April 2007 tercatat sebagai hari lahir atau Dies Natalis STAIS Kutai Timur. Bahkan bagi yang masih beraktifitas secara aktif disana entah mahasiswa, karyawan bahkan dosen. Sebagian besar yang ingat pun, sebatas mengetahui bahwa bulan April adalah bulan kelahiran STAIS, inipun berkat perayaan Dies Natalis ini biasanya mengambil waktu hampir sebulan penuh.

Biasanya perayaan Dies Natalis berpusat di Kampus (saat itu masih dikampus GOR sekat-sekatan), ditandai dengan beragam kegiatan, baik seminar, do’a bersama atau yang paling berkesan dan tidak pernah ketinggalan adalah ajang lomba-lomba antar kelas. Baik lomba dibidang seni seperti puisi, bernyanyi, menulis esai dan cerpen, pidato, tilawatil qur’an atau dibidang olahraga semacam tanding Badminton, Volly, Takraw, tenis meja, sepak bola dilapangan becek sampai luka-luka, bahkan sampai pukul-pukulan bantal diatas genagan air Gazebo . Suasana terasa semakin bersahabat, takkala perlombaan juga melibatkan unsur alumni, karyawan bahkan dosen.

Diakhir perayaan biasanya panitia menggelar acara seremoni untuk mengumumkan juara-juara yang hadiahnya adalah hal-hal sederhana, seperti permen, cemilan, minuman ringan atau yang paling mahal biasanya berupa pakaian atau buku. Saya pernah dihadiahi buku bacaan karena memenangkan lomba karya tulis Ilmiah saat itu, kalau tidak salah tahun 2013. Tidak ada hadiah berupa uang, budget panitia biasanya terbatas akibat proposal yang cair hanya 20-30 persen ditambah iuran sukarela mahasiswa dan peserta lomba. Tidak perlu mewah, paling hanya perlu memastikan idealisme tetap terjaga, karna hanya itulah kemewahan terakhir kata Tan Malaka.

Namun, keterbatasan itu tidak menjadi soal, partisipan tetap larut dalam euforia dan baik yang kalah maupun yang menang tetap bangga berfoto bersama untuk sekedar menunjukkan suka cita. Ah, susah untuk tidak dirindukan. Sayangnya beberapa tahun belakangan (terakhir 2016), entah apa sebabnya perayaan Dies Natalis tidak seperti saat saya masih kuliah, tidak ada lomba, tidak ada sikut-sikutan antara dosen dan mahasiswa, dan tidak ada sorak-sorai mahasiswi yang mendukung Tim kelasnya yang sedang bertanding. Sebagai Alumni, saya dan mungkin banyak alumni lainnya juga merindukan moment itu kembali.

Tahun ini, saya sempat berfikir mengusulkan kepada adik-adik mahasiswa BEM agar kegiatan serupa digelar kembali. Akan tetapi wabah Covid-19 telah membuat saya urung menyampaikannya, sudah pasti tidak akan terselenggara. Mudah-mudahan wabah ini segera berlalu dan adik-adik BEM bisa menggelarnya tahun depan, syukur-syukur kalau bisa lebih awal.

Terlepas dari nostalgia diatas, Inti yang ingin saya tuliskan adalah saya merasa bangga pernah menjadi bagian dari kampus kecil ini. Saya perlu menyampaikan hal ini untuk tetap merayakan Dies Natalis meski dari dalam bilik rumah. Selai itu, saya mau mengajak semua civitas akademik, khususnya mahasiswa STAIS untuk merawat optimisme lewat kampus yang sederhana ini.

Saya pernah bertanya kepada beberapa mahasiswa, tentang alasan mereka masuk memilih STAIS sebagai tempat kuliah. Tidak sedikit yang beralasan karena tidak diterima dikampus idola, dipaksa orang tua, atau dominan alasannya karena gratis. Wajah mereka banyak yang menunjukan ekspresi pesimis, mungkin akibat minder melihat kawan seangkatannya yang justru bisa kuliah dikampus besar dan ternama. Saya sampaikan kepada mereka, bahwa merawat optimisme itu jauh lebih penting daripada meratapi sesuatu yang jauh dipelupuk mata.

Saya mengakui masih banyak kekurangan dan keterbatasan kampus ini, baik dari faslitas maupun aktivitas akademik yang kadang macet kadang lancar. Itulah mengapa ketika masih dibangku kuliah, kami tidak lelah mengkritisi dan memberi masukan kepada pimpinan kampus. Kekurangan dan keterbatasan,bisa terlewati dengan saling mendengar dan memberi masukan. Jangan bilang diantara kami tidak ada yang takut nilai kuliahnya tereliminir karena terlalu kritis. Sepertinya rasa takut itu terlalu kecil jika dibandingkan dengan rasa cinta terhadap kampus ini.

Saya sampaikan bahwa ditengan mahalnya biaya kuliah dikampus-kampus beken dan ternama, justru bagus STAIS hadir dengan program kuliah gratisnya. Tidak sedikit orang yang telah terselamatkan masa depannya setelah lulus dari kampus ini, setidaknya mereka punya harapan bisa mendaftar kerja dengan ijazahnya, dan punya wawasan yang jauh lebih luas tentang ilmu dan agama dari pada mera yang tidak punya kesempatan kuliah sama sekali.

Lagian diabad ke 21 ini, ijazah dari kampus manapun tidak menjadi indikator utama kesuksesan. Ada yang sukses dapat jabatan tapi sesat dalam melihat realita kemanusiaan seperti Staf khusus presiden lulusan Harvard yang nyuratin Camat untuk membantu perusahaannya ditengah wabah. Jadi dik, yang dibutuhkan diabad ini adalah kemampuan berfikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi dan menghasilkan kreasi. Semua bergantung kepada tingkat kegigihan masing-masing individu, dan modal awalnya adalah optimisme.

Jadi, Berbahagialah Keluarga Besar STAIS
Dan Selamat Dies Natalis ke-13.
Bersamamu Alamamaterku, bersemilah Dharma Baktiku.

Zulkadrin
Mahasiswa Angkatan 2012

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Ratusan Mahasiswa STAIS Laksanakan KKL di Muara Wahau dan Kongeng – Bupati Minta Jaga Nama Baik Almamater

Siti Fatimah

Mengurai Problematika Ekonomi Menurut Baqir Sadr