in

Mengurai Problematika Ekonomi Menurut Baqir Sadr

Siti Fatimah

Dalam ilmu ekonomi ada beberapa hal pokok yang dipandang sebagai permasalahan utama. Permasalahan tersebut diantaranya adalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Kemiskinan adalah suatu kondisi dimana seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya, seperti sandang pangan dan tempat tinggal untuk berlindung.

Sementara, ketimpangan pendapatan adalah kondisi tidak seimbangnya kepemilikan harta antara satu orang dengan orang lainnya. Dalam tarap mengkhawatirkan, ketimpangan pendapatan akan membangun gap yang lebar antar orang kaya dan orang miskin, yang berakibat pada terbentuknya kelas-kelas sosial.

Di Indonesia jumlah orang miskin tidaklah sedikit. BPS mencatat ada sekitar 9,14 persen atau sebanyak 25,14 juta masyrakat miskin di    Indonesia. Angka ini terus bertambah menjadi 33,40 juta orang sejak virus corona melanda. Kemiskinan tersebut sejalan dengan tingginya ketimpangan denagn digit  ratio gini yang berkisar diangka 0,390-0,392 per September 2019. Ketimpangan tersebut akan terus bertambah seiring berlanjutnya tren PHK akibat covid-19.

Baqir Sadr, seorang pemikir muslim dari tanah Persia jauh-jauh hari telah mendiagnosa permasalahan ekonomi diatas. Baqir Sadr dengan bukunya yang fenomenal Iqtishuduna menyatakan bahwa permasalahan ekonomi disebabkan karena adanya distribusi yang tidak adil sebagai akibat sistem ekonomi yang membolehkan eksploitasi pihak yang kuat pada pihak yang lemah. Yang kuat memiliki akses sumber daya sehingga kaya, yang lemah tidak memiliki akses sumber daya, sehingga menjadi sangat miskin.

Alhasil Baqir menyimpulkan bahwa permasalahan ekonomi terjadi karena distribusi yang tidak merata. Bagian pendapatan yang diterima golongan penduduk berpendapatan tinggi jauh lebih besar dibanding golongan penduduk berpendapatan rendah. Di samping itu ketimpangan diperkuat pula oleh lajunya pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih tinggi.

Baqir juga berpendapat beberapa faktor yang menyababkan distribusi menjadi terhambat. Pertama adalah terjadinya penibunan sumber daya oleh pihak yang kaya.  Kedua, terjadinya pasar monopoli yang dimana  hanya terdapat satu penjual  yang menguasai pasar dan menentukan harga barang produksi, semakain sedikit barang yang di produksi, maka jelas semakin mahal harga barang tersebut. Proses ini telah menyebabkan yang kaya menjadi semakin kaya, yang miskin menjadi semakin miskin.

Menurut pendiri mazhab Iqtishoduna tersebut, ketimpangan pendapatan sampai ketimpangan kemiskinan  menyebabkan timbulnya berbagai masalah ekonomi baru, seperti kekurangan lapangan pekerjaan, banyaknya beban hidup yang di tanggung, keterbatasan sumber daya, banyaknya manipulasi, dan juga terjadinya korupsi.

Ancaman krisis saat corona yang hari ini menghantui negara, tidak lain akibat model tata kelola ekonomi kita yang tidak berpihak pada nilai keadilan. Saat ini negara sangat sibuk mencari cara untuk menjaga stabilitas perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, padahal akara permasalahan yang selama ini adalah betapa mudahnya pemerintah membuka akses pengusaha besar terhadap pengrusakan sumber daya publik, mulai dari air minum sampai tanah persawahan yang dijadikan gedung dan lahan tambang.  Sudah saatnya negara mengubah haluan ekonominya.

SITI FATIMAH (NIM: 19.1.21.075)
Mahasiswa Jurusan Ekonomi Syariah

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0
Nostalgia Dies Natalis STAI Sangatta Kutim

Nostalgia Dies Natalis STAI Sangatta Kutim

STAI Sangatta Rapat Evaluasi dan Penetapan Kebijakan New Normal

STAI Sangatta Rapat Evaluasi dan Penetapan Kebijakan New Normal