STAI Sangatta Perlu Branding dan Membangun Image

Sangatta. Setelah diterbitkannya hasil akreditasi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta (Kutim), oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dengan Nomor: 519/SK/BAN-PT/Akred/PT/VI/2015 tentang nilai dan peringkat akreditasi institusi pada beberapa waktu lalu, pemerintah daerah yang diwakili oleh asisten 3 Mohammad Edwar meminta STAI Sangatta untuk mempertahankan peringkat akreditasi B dengan skor 301 tersebut, bahkan ia menegaskan ke depan harus meningkatkannya. Hal tersebut diungkapkan saat laki-laki bergelar Doktor tersebut membuka acara seminar yang digelar di STAI Sangatta pada (22/8) kemarin.

“Saya berbangga hati dan selamat kepada STAI Sangatta yang telah mendapatkan nilai akreditasi B, dan saya berharap STAI Sangatta bisa mempertahankan dan bahkan meningkatkan nilai akreditasinya”, ucapnya saat sambutan. Dia menambahkan pemerintah daerah tetap berkomitmen menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) dan memberikan subsidi untuk menguatkan penyelenggaraan pendidikan di STAI Sangatta. “Pemerintah daerah Kutim tetap komitmen untuk tetap memberikan subsidi guna menguatkan penyelenggaraan pendidikan di STAI Sangatta”, tukasnya.

Hal senada juga dikatan oleh ketua STAI Sangatta Siti Hidajah, menurutnya, dengan adanya hasil akreditasi institusi tersebut, pihaknya akan berupaya secara maksimal untuk meningkatkan pendidikan di Kutai Timur. “dengan keluarnya nilai akreditasi tersebut menjadi motivasi tersendiri bagi kami untuk meningkatkan kualitas pendidikan, salah satu upaya kami saat ini yang sedang kami usahakan adalah membuka empat prodi baru dan melakukan kerjasama dengan Perguruan Tinggi di Maroko”, katanya dengan nada gembira.

Pada kesempatan lain saat Imam Syafi’i seorang Direktur Ketenagaan Kementrian Agama RI menyampaikan materi seminar, mengamini apa yang disampaikan asisten 3 dan ketua STAI Sangatta, namun menurut dia, untuk memajukan sebuah Perguruan Tinggi juga perlu membangun image. “Cara yang sederhana dimulai adalah membangun image, misalnya dengan “saya (dibaca STAI Sangatta) hanyalah satu-satunya”, maka orang ketika ingat STAI Sangatta maka akan muncul image baik yang luar biasa, yang menjadi unggulan”, tutrnya. Berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Ummi Waheeda, pengasuh pondok pesantren Nurul Iman Parung Bogor, yang turut menjadi narasumber dalam seminar. Ia mengatakan untuk memajukan sebuah lembaga pendidikan harus punya branding. “apapun bentuknya, untuk meningkatkan kualitas pendidikan maka lembaga pendidikan harus mempunyai branding, misalnya bahasa asing, ilmu teknologi (IT) dan sebagainya”, ucap perempuan yang mendidik 32000 santrinya secara gratis.

Menanggapi kondisi STAI Sangatta yang terbilang masih cukup muda, Direktur Diktis Kemenag RI Mohammad Zain yang dalam waktu bersamaan melakukan visitasi terkait pembukaan 4 program studi (prodi) mengatakan STAI Sangatta sangat mungkin untuk membuka prodi baru. “Bukan hal yang tidak mungkin untuk STAI Sangatta membuka prodi baru, yang penting ditunjang dengan sarana prasarana pembelajaran memadai, seperti jaringan internet, perpustakaan dan tenaga pengajar. Dan saya melihat STAI Sangatta sudah mempunyai itu”, tutupnya sebelum meninggalkan STAI Sangtta. (mchtr)